Senin, 19 September 2016

Biografi dr Sutomo Pendiri Budi Utomo


Profil dr Soetomo:
Nama
:
dr Soetomo (dr Sutomo)
Nama kecil
:
Subroto
Tanggal Lahir
:
30 Juli 1888
Tempat Lahir
:
desa Ngepeh, Loceret, Nganjuk, Jawa Timur,
Meninggal
:
30 Mei 1938 (umur 49) di Surabaya, Jawa Timur, Indosesia (Hindia Belanda)
Kebangsaan
:
Indonesia (Hindia Belanda nama negara saat itu)
Pendidikan
:
STOVIA (School tot Opleiding van Inlandsche Artsen), Batavia.-Sekolah dokter untuk anak-anak pribumi Hindia Belanda 1903-1911). Pada tahun 1919 sampai 1923, Soetomo melanjutkan studi kedokteran di Belanda.
Pekerjaan
:
dokter sejak tahun 1911 bekerja sebagai dokter pemerintah di berbagai daerah di Jawa dan Sumatra.
Keluarga
:
tahun 1917, Soetomo menikah dengan seorang perawat Belanda.

Organisasi Budi Utomo

Budi Utomo adalah organisasi pergerakan yang pertama berdiri di Indonesia. Didirikan tanggal 20 Mei 1908 oleh para pelajar STOVIA (School tot Opleiding van Inlandsche Artsen) di Batavia, yaitu sekolah dokter untuk anak-anak pribumi Hindia Belanda, sebagai ketua yang pertama adalah dr Sutomo.

Selain Sutomo, para pelajar STOVIA yang aktif dalam organisasi BU diantaranya: Gunawan, Suraji dibantu oleh Suwardi Surjaningrat, Saleh, Gumbreg, dan lain-lain.

Tujuan perkumpulan Budi Utomo adalah kemajuan nusa dan bangsa yang harmonis dengan jalan memajukan pengajaran, pertanian, peternakan, perdagangan, teknik dan industri, kebudayaan, mempertinggi cita-cita kemanusiaan untuk mencapai kehidupan bangsa yang terhormat.

Pada tanggal 05 Oktober 1908 Budi Utomo menyelenggarakan Kongres Pertama BU di Yogjakarta. Dalam kongres ini memutuskan Susunan Pengurus Besar Budi Utomo sbb.
Ketua                      :    Tirtokusumo (bupati Karanganyar)
Wakil ketua             :     Wahidin Sudirohusodo (dokter Jawa)
Penulis                    :    Dwijosewoyo dan Sosrosugondo (kedua-duanya guru Kweekschool), 
Bendahara               :    Gondoatmodjo (opsir Legiun Pakualaman)
Komisaris:               :    Suryodiputro (jaksa kepala Bondowoso), Gondosubroto (jaksa kepala Surakarta), dan Tjipto Mangunkusumo (dokter di Demak)

Pengambil alihan kepengurusan Budi Utomo oleh kaum tua ini malah berdampak positif, karena dana Studie Fond yang dirancang sedari semula lebih lancar mengalir dalam tujuan pemberian beasiswa untuk memajukan pendidikan pemuda Indonesia.

dr Sutomo sendiri itu saat lebih fokus pada pelajarannya/pendidikannya, hingga akhirnya berhasil lulus dari STOVIA tahun 1911, Kemudian setelah itu dr Sutomo bertugas sebagai dokter, mula-mula di Semarang, lalu pindah ke Tuban, pindah lagi ke Lubuk Pakam (Sumatera Timur) dan akhirnya ke Malang. Saat bertugas di Malang, ia membasmi wabah pes yang melanda daerah Magetan.

Tahun 1919 – 1923 dr Sutomo memperoleh kesempatan memperdalam pengetahuan melanjutkan sekolah dokter di negeri Belanda. Sekembalinya di tanah air, pada tahun 1924, ia mendirikan Indonesische Studie Club (ISC) yang merupakan wadah bagi kaum terpelajar Indonesia. ISC berhasil mendirikan sekolah tenun, bank kredit, koperasi, dan sebagainya. Pada tahun 1931 ISC berganti nama menjadi Persatuan Bangsa Indonesia (PBI). Di bawah pimpinannya, PBI berkembang pesat.

Pada tahun 1934 ada upaya menggabungkan (fusi) antara BU dan PBI, tepat di bulan Januari tahun itu dibentuklah Komisi BU-PBI. Upaya ini mendapat tanggapan positif dan disetujui oleh kedua Pengurus Besar BU dan PBI pada tahun 1935.

Di tahun akhir tahun 1935 tepatnya berlangsung tanggal 24-26 Desember diselenggarakan Kongres Peresmian Penggabungan (fusi) BU-PBI, juga merupakan kongres terakhir BU, melahirkan Partai Indonesia Raya (PARINDRA), dengan dr Sutomo secara aklamasi diangkat menjadi ketua PARINDRA.

Kali ini tujuan organisasi sangat jelas dan tegas, Parindra berjuang untuk mencapai Indonesia merdeka.

dr Sutomo selain sebagai dokter, dr Sutomo juga aktif di bidang politik dan kewartawanan dengan mendirikan surat kabar & majalah Panyebar Semangat di Surabaya sebagai media sarana perjuangannya. Begitulah hingga dr Sutomo tutup usia di Surabaya pada tanggal 30 Mei 1938.

Hari kelahiran BU tanggal 20 Mei, yang kemudian diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional.
Dikutip dari berbagai sumber.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar