Selasa, 09 November 2010

Fathimah az-zahra rha dan Gilingan Gandum


Search Engine Submission - AddMe

Fathimah az-zahra rha dan Gilingan Gandum

Suatu hari masuklah Rasulullah SAW menemui anandanya Fathimah az-zahra rha. Didapatinya anandanya sedang menggiling syair (sejenis padi-padian) dengan menggunakan sebuah penggilingan tangan dari batu sambil menangis. Rasulullah SAW bertanya pada anandanya, "apa yang menyebabkan engkau menangis wahai Fathimah?, semoga Allah SWT tidak menyebabkan matamu menangis". Fathimah rha. berkata, "ayahanda, penggilingan dan urusan-urusan rumahtanggalah yang menyebabkan ananda menangis". Lalu duduklah Rasulullah SAW di sisi anandanya. Fathimah rha. melanjutkan perkataannya, "ayahanda sudikah kiranya ayahanda meminta 'aliy (suaminya) mencarikan ananda seorang jariah untuk menolong ananda menggiling gandum dan mengerjakan pekerjaan-pekerjaan di rumah". Mendengar perkataan anandanya ini maka bangunlah Rasulullah SAW mendekati penggilingan itu. Beliau mengambil syair dengan tangannya yang diberkati lagi mulia dan diletakkannya di dalam penggilingan tangan itu seraya diucapkannya "Bismillaahirrahmaanirrahiim". Penggilingan tersebut berputar dengan sendirinya dengan izin Allah SWT. Rasulullah SAW meletakkan syair ke dalam penggilingan tangan itu untuk anandanya dengan tangannya sedangkan penggilingan itu berputar dengan sendirinya seraya bertasbih kepada Allah SWT dalam berbagai bahasa sehingga habislah butir-butir syair itu digilingnya.

Rasulullah SAW berkata kepada gilingan tersebut, "berhentilah berputar dengan izin Allah SWT", maka penggilingan itu berhenti berputar lalu penggilingan itu berkata-kata dengan izin Allah SWT yang berkuasa menjadikan segala sesuatu dapat bertutur kata. Maka katanya dalam bahasa Arab yang fasih, "ya Rasulullah SAW, demi Allah Tuhan yang telah menjadikan baginda dengan kebenaran sebagai Nabi dan Rasul-Nya, kalaulah baginda menyuruh hamba menggiling syair dari Masyriq dan Maghrib pun niscaya hamba gilingkan semuanya. Sesungguhnya hamba telah mendengar dalam kitab Allah SWT suatu ayat yang berbunyi : (artinya)

"Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya para malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang dititahkan-Nya kepada mereka dan mereka mengerjakan apa yang dititahkan".

Maka hamba takut, ya Rasulullah kelak hamba menjadi batu yang masuk ke dalam neraka. Rasulullah SAW kemudian bersabda kepada batu penggilingan itu, "bergembiralah karena engkau adalah salah satu dari batu mahligai Fathimah az-zahra di dalam sorga". Maka bergembiralah penggilingan batu itu mendengar berita itu kemudian diamlah ia.

Rasulullah SAW bersabda kepada anandanya, "jika Allah SWT menghendaki wahai Fathimah, niscaya penggilingan itu berputar dengan sendirinya untukmu. Akan tetapi Allah SWT menghendaki dituliskan-Nya untukmu beberapa kebaikan dan dihapuskan oleh Nya beberapa kesalahanmu dan diangkat-Nya untukmu beberapa derajat. Ya Fathimah, perempuan mana yang menggiling tepung untuk suaminya dan anak-anaknya, maka Allah SWT menuliskan untuknya dari setiap biji gandum yang digilingnya suatu kebaikan dan mengangkatnya satu derajat.

Ya Fathimah perempuan mana yang berkeringat ketika ia menggiling gandum untuk suaminya maka Allah SWT menjadikan antara dirinya dan neraka tujuh buah parit. Ya Fathimah, perempuan mana yang meminyaki rambut anak-anaknya dan menyisir rambut mereka dan mencuci pakaian mereka maka Allah SWT akan mencatatkan baginya ganjaran pahala orang yang memberi makan kepada seribu orang yang lapar dan memberi pakaian kepada seribu orang yang bertelanjang. Ya Fathimah, perempuan mana yang menghalangi hajat tetangga-tetangganya maka Allah SWT akan menghalanginya dari meminum air telaga Kautshar pada hari kiamat.

Ya Fathimah, yang lebih utama dari itu semua adalah keridhaan suami terhadap istrinya. Jikalau suamimu tidak ridha denganmu tidaklah akan aku do'akan kamu. Tidaklah engkau ketahui wahai Fathimah bahwa ridha suami itu daripada Allah SWT dan kemarahannya itu dari kemarahan Allah SWT?. Ya Fathimah, apabil seseorang perempuan mengandung janin dalam rahimnya maka beristighfarlah para malaikat untuknya dan Allah SWT akan mencatatkan baginya tiap-tiap hari seribu kebaikan dan menghapuskan darinya seribu kejahatan. Apabila ia mulai sakit hendak melahirkan maka Allah SWT mencatatkan untuknya pahala orang-orang yang berjihad pada jalan Allah yakni berperang sabil. Apabila ia melahirkan anak maka keluarlah ia dari dosa-dosanya seperti keadaannya pada hari ibunya melahirkannya dan apabila ia meninggal tiadalah ia meninggalkan dunia ini dalam keadaan berdosa sedikitpun, dan akan didapatinya kuburnya menjadi sebuah taman dari taman-taman sorga, dan Allah SWT akan mengkaruniakannya pahala seribu haji dan seribu umrah serta beristighfarlah untuknya seribu malaikat hingga hari kiamat.

Perempuan mana yang melayani suaminya dalam sehari semalam dengan baik hati dan ikhlas serta niat yang benar maka Allah SWT akan mengampuni dosa-dosanya semua dan Allah SWT akan memakaikannya sepersalinan pakaian yang hijau dan dicatatkan untuknya dari setiap helai bulu dan rambut yang ada pada tubuhnya seribu kebaikan dan dikaruniakan Allah untuknya seribu pahala haji dan umrah. Ya Fathimah, perempuan mana yang tersenyum dihadapan suaminya maka Allah SWT akan memandangnya dengan pandangan rahmat. Ya Fathimah perempuan mana yang menghamparkan hamparan atau tempat untuk berbaring atau menata rumah untuk suaminya dengan baik hati maka berserulah untuknya penyeru dari langit (malaikat), "teruskanlah 'amalmu maka Allah SWT telah mengampunimu akan sesuatu yang telah lalu dari dosamu dan sesuatu yang akan datang". Ya Fathimah, perempuan mana yang meminyak-kan rambut suaminya dan janggutnya dan memotongkan kumisnya serta menggunting kukunya maka Allah SWT akan memberinya minuman dari sungai-sungai sorga dan Allah SWT akan meringankan sakarotulmaut-nya, dan akan didapatinya kuburnya menjadi sebuah taman dari taman-taman sorga seta Allah SWT akan menyelamatkannya dari api neraka dan selamatlah ia melintas di atas titian Shirat".

Selasa, 02 November 2010

Allah telah memalingkan hati kaum Yahudi dari kebenaran

Dialog Rasulullah SAW dengan Pendeta Yahudi
Dipublikasi pada Selasa, 02 Nopember 2010
Topik: Kisah & Hikmah

Disalin dari Aldakwah.org--Muslim meriwayatkan dalam Shahih-nya hadits dari Aban, ia berkata:

Aku sedang berada di samping Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, lalu datang seorang pendeta Yahudi. Ia berkata, "Salam sejahtera kepadamu Wahai Muhammad." Mendengar salamnya, aku langsung mendorongnya. Ia pun jatuh tersungkur dan nyaris pingsan. Ia berkata, "Kenapa Anda mendorongku seperti itu?" Aku berkata, "Kenapa Anda tidak mengatakan, 'Wahai Rasulullah'.?" Pendeta Yahudi itu berkata, "Sesungguhnya aku memanggilnya dengan nama yang diberikan keluarganya."
Kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Sesungguhnya nama yang diberikan keluargaku kepadaku adalah Muhammad!" Pendeta Yahudi tadi berkata, "Saya datang kepadamu untuk menanyakan beberapa hal." Beliau berkata, "Apakah ada gunanya bagimu kalau aku menjawab pertanyaanmu ?" Maka dia menjawab, "Aku akan mendengarkan dengan kedua telingaku."
Lalu Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam memotong kayu yang beliau bawa dan bersabda, "Silahkan bertanya !" Pendeta Yahudi bertanya, "Di mana manusia berada ketika bumi ini diganti dengan bumi yang lain?" Beliau menjawab, "Mereka berada pada dzulmah (kegelapan)."
Dia bertanya lagi, "Siapakah orang yang pertama kali lolos pada Hari Kiamat ?" Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab, "Orang-orang fakir dari kalangan kaum Muhajirin."
Pendeta Yahudi tadi bertanya, "Apa hidangan untuk mereka ketika mereka masuk surga ?" Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab, "Seketul daging pada hati ikan paus."
Pendeta Yahudi bertanya, "Apa makanan siang mereka setelah itu ?" Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab, "Disembelihkan untuk mereka sapi jantan surga yang makanan sehari-harinya adalah rumput surga."
"Apa minuman mereka ?" Tanya si Yahudi lagi. Dijawab oleh beliau, "Dari mata air yang bernama Salsabila."
Pendeta Yahudi itu berkata, "Anda benar !" Lalu katanya, "Saya datang kepadamu untuk menanyakan masalah yang hanya diketahui oleh nabi atau satu atau dua orang saja.!" Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Adakah kegunaan bagimu kalau aku berbicara denganmu ?" Dia menjawab, "Aku akan mendengarkan perkataan Anda dengan kedua telingaku."
Pendeta Yahudi itu melanjutkan, "Aku ingin menanyakanmu tentang proses pembentukan bayi." Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab, "Sperma laki-laki berwarna putih sedangkan sperma wanita berwarna kuning. Jika kedua sperma tersebut bertemu, kemudian sperma laki-laki berada di atas sperma wanita, maka kedua sperma tersebut membentuk anak laki-laki dengan izin Allah Ta'ala. Sebaliknya jika sperma wanita berada di atas sperma laki-laki, maka kedua sperma itu membentuk anak wanita dengan izin Allah Ta'ala."
Pendeta Yahudi tadi berkata, "Anda benar dan tidak ragu lagi bahwa anda adalah seorang nabi." Setelah itu dia menyelonong keluar. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Pendeta Yahudi tadi banyak (bertanya) masalah kepadaku sementara aku tidak mempunyai pengetahuan sedikitpun tentang masalah-masalah yang ditanyakan sehingga Allah Azza wa Jalla datang membawa jawaban masalah-masalah tadi." (Diriwayatkan Muslim)
Dalam Shahih Bukari diriwayatkan hadits dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, ia berkata:
Bahwa Abdullah bin Salam mendengar kedatangan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam di Madinah. Abdullah bin Salam ketika itu sedang berada di perkebunan kurma tengah memanen kurma. Lalu ia mendatangi beliau dan berkata, "Aku ingin bertanya kepadamu tentang tiga perkara dan hanya nabi yang bisa menjawab pertanyaan tadi.! Apa tanda-tanda pertama terjadinya Hari kiamat ? Apa makanan pertama kali penghuni surga ? Seorang bayi itu meniru ayahnya atau ibunya ?"
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab, "Jibril belum lama memberitahu aku semua hal di atas." Abdullah bin Salam berkata, "Jibril ?" Kata Beliau lebih lanjut, "Ya betul, Jibril. Dialah malaikat yang paling dimusuhi orang-orang Yahudi." Kemudian beliau membaca ayat, "Katakanlah, 'Barangsiapa yang menjadi musuh Jibril, maka Jibril telah menurunkannya (Al-Qur'an) ke dalam hatimu dengan seizin Allah' (QS. Al-Baqarah (2): 91). Tanda-tanda pertama Hari Kiamat adalah api yang menghimpun seluruh manusia dari timur hingga barat. Makanan pertama kali di makan penghuni surga adalah seketul daging pada hati ikan paus. Jika sperma laki-laki lebih dahulu masuk daripada sperma wanita, maka lahirlah anak laki-laji dan jika sperma wanita lebih dahulu masuk daripada sperma laki-laki, maka membentuk anak wanita."
Abdullah bin Salam berkata, "Saya bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah dan saya bersaksi bahwa engkau adalah utusan Allah. Ya, Rasulullah, sesungguhnya orang-orang Yahudi adalah kaum yang susah dipegang ucapannya.. Jika mereka mengetahui ke-Islamanku sebelum engkau bertanya kepada mereka, pasti mereka tidak mempercayaiku."
Tidak lama kemudian datanglah orang-orang Yahudi kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Beliau bertanya kepada mereka, "Bagaimana kedudukan Abdullah bin Sallam di kalangan kalian ?" Mereka menjawab, "Abdullah bin Sallam adalah orang terbaik yang kami miliki dan anak yang terbaik yang kami miliki. Ia adalah tokoh kami dan anak tokoh kami."
Kata Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, "Bagaimana pendapat kalian kalau Abdullah bin Salam masuk Islam.?" Mereka menjawab, "Semoga Allah menjauhkannya dari masuk Islam." Kemudian Abdullah bin Salam keluar dan berkata, "Saya bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah melainkan Allah dan Saya bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah." Orang-orang Yahudi tadi berkata, "Engkau adalah orang yang paling jelek yang kami miliki dan anak orang yang paling jelek yang kami miliki." Mereka semua merendahkan martabat Abdullah bin Salam. Abdullah bin Salam berkata, "Inilah yang saya khawatirkan wahai Rasulullah." (Diriwayatkan Bukhari)

Dialog Ja'far dengan rafidhah



Apabila kita membaca atau berdialog dengan pengikut Mazhab Syi‘ah, mereka seringkali mengidentitikan diri mereka sebagai pengikut Mazhab Ahl al-Bait. Dakwaan ini akan kita kaji seterus ini.
Yang dimaksudkan dengan Ahl al-Bait Rasulullah.
Perkataan Ahl digunakan bagi seorang lelaki untuk merujuk kepada kabilahnya (عشيرته), orang-orangnya (ذو) dan kaum kerabatnya[1] Contoh penggunaannya boleh dirujuk di dalam al-Qur’an:
Setelah Musa menyempurnakan tempoh kerjanya itu dan berjalan dengan isterinya (Ahl), ia melihat (dalam perjalanannya itu) api dari sebelah Gunung Tursina. (Ketika itu) berkatalah ia kepada isterinya (Ahl): “Berhentilah; sesungguhnya aku ada melihat api, semoga aku dapat membawa kepada kamu sesuatu berita dari situ, atau sepuntung dari api itu, supaya kamu dapat memanaskan diri.” [al-Qasas 28:29] Perkataan Ahl al-Bait merujuk kepada keluarga bagi seseorang lelaki. Contohnya ialah ayat berikut berkenaan isteri Nabi Ibrahim ‘alaihi salam:
Isteri (Nabi Ibrahim) berkata: Sungguh ajaib keadaanku! Adakah aku akan melahirkan anak padahal aku sudah tua dan suamiku ini juga sudah tua? Sesungguhnya kejadian ini suatu perkara yang menghairankan.
Malaikat-malaikat itu berkata: Patutkah engkau merasa hairan tentang perkara yang telah ditetapkan oleh Allah? Memanglah rahmat Allah dan berkatNya melimpah-limpah kepada kamu, wahai Ahl al-Bait. Sesungguhnya Allah Maha terpuji, lagi Maha Melimpah kebaikan dan kemurahanNya. [Hud 11:73]
Di sisi Ahl al-Sunnah, istilah Ahl al-Bait merujuk kepada keluarga Rasulullah yang terjalin berdasarkan ikatan penikahan (para isterinya) dan ikatan nasab (anak-anaknya termasuk ‘Ali). Di sisi Syi‘ah, Ahl al-Bait hanyalah merujuk kepada keluarga ikatan nasab Rasulullah yang terdiri daripada ‘Ali, Fathimah, Hasan dan Husain diikuti dengan keturunan mereka. Ini berdasarkan tafsiran mereka terhadap ayat 33 surah al-Ahzab yang akan kita bahas nanti, insya-Allah.
Oleh itu Syi‘ah sering kali mengistilahkan diri mereka sebagai Mazhab Ahl al-Bait. Ahl al-Sunnah tidak menerima pengistilahan ini kerana para pengikut Ahl al-Bait yang sebenar terdiri daripada mereka yang mengiktiraf kekhalifahan Abu Bakar, ‘Umar dan ‘Utsman serta mengutamakan mereka melebihi orang-orang lain, termasuk ‘Ali sendiri. Ini merupakan iktikad para Ahl al-Bait Rasulullah: ‘Ali, Fathimah, Hasan dan Husain diikuti dengan para imam keturunan mereka.[2] Antara bukti terkuat bagi perbezaan ini ialah dialog berikut antara Ja’far al-Shiddiq radhiallahu ‘anh dengan salah seorang Syi‘ah.

Dialog Ja’far al-Shiddiq dengan seorang Syi‘ah.[3]
Seorang rawi[4] menuturkan bahawa ada seorang Syi‘ah mendatangi Ja’far bin Muhammad al-Shiddiq[5] Karramallah Wajha lalu segera mengucap salam: “Assalamu‘alaikum waRahmatullahi waBarakatuhu.” Ja’far terus menjawab salam tersebut.
(Dialog pertama):
Syi‘ah tadi bertanya: Wahai putra Rasulullah, siapakah manusia terbaik setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam?
Ja’far al-Shiddiq menjawab: Abu Bakar (radhiallahu ‘anh).
Syi‘ah bertanya: Mana hujahnya dalam hal itu?
Ja’far menjawab: Firman Allah Ta‘ala:

Kalau kamu tidak menolongnya (Nabi Muhammad) maka sesungguhnya Allah telahpun menolongnya, iaitu ketika kaum kafir (di Makkah) mengeluarkannya (dari negerinya Makkah) sedang ia salah seorang dari dua (sahabat) semasa mereka berlindung di dalam gua, ketika ia berkata kepada sahabatnya: “Janganlah engkau berdukacita, sesungguhnya Allah bersama kita.” Maka Allah menurunkan semangat tenang tenteram kepada (Nabi Muhammad) dan menguatkannya dengan bantuan tentera (malaikat) yang kamu tidak melihatnya. [al-Taubah 9:40]
Ja’far melanjutkan: Cuba fikirkan, apakah ada orang yang lebih baik dari dua orang yang nombor ketiganya adalah Allah ? Tidak ada seorang pun yang lebih afdhal daripada Abu Bakar selain Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.
Maka Syi‘ah berkata: Sesungguhnya ‘Ali bin Abu Thalib ‘alaihi salam telah tidur di tikar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam (demi menggantikannya dalam peristiwa hijrah) tanpa mengeluh (jaza’, ertinya tabah) dan tidak takut (faza’, ertinya ia tegar).
Maka Ja’far menjawab: Dan begitu pula Abu Bakar, dia bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tanpa jaza’ dan faza’.
Syi‘ah menyanggah: Sesungguhnya Allah Ta‘ala telah menyatakan berbeza dengan apa yang anda katakan !
Ja’far bertanya: Apa yang difirmankan oleh Allah?
Syi‘ah menjawab: …ketika ia berkata kepada sahabatnya: “Janganlah engkau berdukacita, sesungguhnya Allah bersama kita” bukankah ketakutan tadi adalah jaza’ ?
Ja’far menjelaskan: Tidak kerana Huzn (sedih) itu bukan jaza’ dan faza’. Sedihnya Abu Bakar adalah khuatir jika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dibunuh dan agama Allah tidak lagi ditaati. Jadi kesedihannya adalah terhadap agama Allah dan terhadap Rasul Allah, bukan sedih terhadap dirinya. Bagaimana (dapat dikatakan dia sedih untuk dirinya sendiri padahal) dia disengat lebih dari seratus sengatan dan tidak pernah mengatakan “His” juga (tidak pernah) mengatakan “Uh” (tidak mengerang kesakitan).
(Dialog kedua):
Syi‘ah berkata: Sesungguhnya Allah Ta‘ala berfirman:
Sesungguhnya Penolong kamu hanyalah Allah, dan Rasul-Nya, serta orang-orang yang beriman, yang mendirikan sembahyang, dan menunaikan zakat sedang mereka rukuk. [al-Maidah 5:55]
Ayat ini turun berkenaan ‘Ali bin Abu Thalib ketika mensedekahkan cincinnya ketika dia sedang rukuk, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Segala puji bagi Allah yang telah menjadikannya (ayat di atas) di dalam diriku dan Ahl al-Baitku.”[6]
Ja’far menjelaskan: Ayat yang sebelumnya lebih agung daripadanya. Allah berfirman:
Wahai orang-orang yang beriman ! Sesiapa di antara kamu berpaling tadah dari agamanya (jadi murtad), maka Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Ia kasihkan mereka dan mereka juga kasihkan Dia. [al-Maidah 5:54]
Ternyata perbuatan riddah (murtad, keluar dari Islam) terjadi besar-besaran sepeninggalan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
Orang-orang kafir itu tertumpu di Nahawand, mereka berkata:
“Orang yang selama ini mereka bela (Rasulullah) kini telah wafat (maka tidak perlu lagi membayar zakat).”
Hingga ‘Umar radhiallahu ‘anh berkata (kepada Abu Bakar yang bertekad memerangi mereka):
“Terimalah solat dari mereka dan biarkan (maafkan) zakat bagi mereka.”
Maka dia (Abu Bakar) berkata:
“Demi Allah seandainya mereka menghalangiku (tidak mahu menyerahkan sekalipun) seutas tali (pengikat haiwan, yakni untuk zakat haiwan ternakan) yang dulu mereka membayarkannya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, pasti aku memerangi mereka biarpun seorang diri.” [7]
Maka ayat ini (al-Maidah 5:54) lebih utama untuk Abu Bakar radhiallahu ‘anh.
(Dialog ketiga):
Syi‘ah tersebut melanjutkan hujahnya: Sesungguhnya Allah Ta‘ala telah berfirman:

Orang-orang yang menginfakkan hartanya pada waktu malam dan siang, dengan cara sulit atau terbuka. [al-Baqarah 2:274]
Ayat ini turun berkenaan ‘Ali ‘alaihi salam. Dia memiliki empat dinar, satu dinar dia nafkahkan pada malam hari, satu dinar dia nafkahkan pada siang hari, satu dinar secara sembunyi-sembunyi dan satu dinar secara terang-terangan. Maka turunlah ayat ini.[8]
Ja’far ‘alaihi salam menjelaskan: Abu Bakar memiliki yang lebih utama lagi di dalam Al-Quran. Allah berfirman:

Demi malam apabila ia menyelubungi segala-galanya. [al-Lail 92:01] Ini adalah sumpah Allah.

Dan siang apabila ia lahir terang-benderang; Demi Yang menciptakan (makhluk-makhluk-Nya) lelaki dan perempuan; Sesungguhnya amal usaha kamu adalah berbagai-bagai keadaannya. Jelasnya: adapun orang yang memberikan apa yang ada padanya ke jalan kebaikan dan bertaqwa; Serta ia mengakui dengan yakin akan perkara yang baik. [al-Lail 92:02-06] Ini ialah Abu Bakar.

Maka sesungguhnya Kami akan memberikannya kemudahan untuk mendapat kesenangan. Ini ialah (bagi) Abu Bakar.

Dan akan dijauhkan (azab neraka) itu daripada orang yang sungguh bertaqwa. [al-Lail 92:17]. Ini ialah Abu Bakar.

Yang mendermakan hartanya dengan tujuan membersihkan dirinya dan harta bendanya. [al-Lail 92:18]. Ini ialah Abu Bakar.
Sedang ia tidak menanggung budi sesiapapun, yang patut di balas. [al-Lail 92:19] Ini ialah Abu Bakar.
Dia telah menafkahkan untuk (dakwah Rasulullah) sebanyak 40 ribu dinar sehingga baginda bersuka-cita. Kemudian turunlah Jibril ‘alaihi salam memberi khabar bahawa:
“Allah yang Maha Tinggi dan Luhur memberikan salam untukmu (wahai Rasulullah) dan Dia berkata ucapkan juga kepada Abu Bakar salam dari-Ku dan katakan kepadanya: Apakah engkau redha kepada Allah dalam kefakiranmu ini ataukah engkau tidak suka ?”
Maka Abu Bakar menjawab:
“Apa mungkin aku marah (tidak suka) kepada Rabb-ku ‘Azza wa Jalla ? Aku redha kepada Rabb-ku, aku redha kepada Rabb-ku, aku redha kepada Rabb-ku.”
Dan Allah berjanji untuk meredhakannya.[9]
(Dialog keempat):
Syi‘ah berhujah lagi: Sesungguhnya Allah berfirman:

Adakah kamu sifatkan hanya perbuatan memberi minum kepada orang-orang yang mengerjakan Haji, dan (hanya perbuatan) memakmurkan Masjid Al-Haram itu sama seperti orang yang beriman kepada Allah dan Hari Akhirat serta berjihad pada jalan Allah ? Mereka (yang bersifat demikian) tidak sama di sisi Allah. [al-Taubah 9:19] Ayat ini turun berkenaan ‘Ali ‘alaihi salam.[10]
Ja’far ‘alaihi salam menjawab: Abu Bakar memiliki sesuatu yang lebih afdal di dalam Al-Qur’an, Allah berfirman:
Tidaklah sama di antara kamu, orang-orang yang membelanjakan hartanya serta turut berperang sebelum kemenangan (menguasai Kota Mekah: Fath al-Mekah). Mereka itu lebih besar darjatnya daripada orang-orang yang membelanjakan hartanya serta turut berperang sesudah itu. Dan tiap-tiap satu puak dari keduanya, Allah janjikan (balasan) yang sebaik-baiknya. Dan (ingatlah), Allah Maha Mendalam PengetahuanNya akan apa yang kamu kerjakan. [al-Hadid 57:10]
Abu Bakar adalah orang yang pertama kali menafkahkan hartanya untuk Rasulullah, orang yang pertama berperang dan yang pertama berjihad (yakni ketika) orang-orang musyrik datang memukul Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sampai berdarah. Sebaik sahaja Abu Bakar mendengar berita itu dia terus berlari mendatangi mereka lalu berkata:
“Celaka kalian ! Apakah kalian akan membunuh orang yang mengatakan Rabb-ku adalah Allah padahal dia telah membawa bukti-bukti yang jelas dari Tuhan kalian ?”
Maka mereka meninggalkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan berbalik memukul Abu Bakar sehingga tidak jelas antara hidung dan wajahnya.[11]
Dia (Abu Bakar) adalah orang yang pertama berjihad di jalan Allah dan orang pertama yang berperang bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, serta orang pertama yang menafkahkan hartanya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda:
“Tidak ada harta yang bermanfaat untukku seperti manfaatnya harta Abu Bakar.” [12]
(Dialog kelima):
Syi‘ah terus berhujah: Sesungguhnya ‘Ali tidak pernah menyekutukan Allah walau sekelip mata.
Maka Ja’far berhujah kembali: Sesungguhnya Allah telah memuji Abu Bakar dengan pujian yang mencukupi dari segala sudut. Allah berfirman:
Dan yang membawa kebenaran serta yang mengakui kebenarannya, mereka itulah orang-orang yang bertaqwa. [al-Zumar 39:33]
Dan yang membawa kebenaran…ialah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, serta yang mengakui kebenarannya…ialah Abu Bakar. Semua orang berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam (setelah peristiwa Isra’ dan Mikraj): “Engkau dusta” sedangkan Abu Bakar, hanya dia yang berkata: “Engkau benar.” Maka turunlah ayat ini berkenaan dengannya: Ayat tashdiq (pembenaran) secara khusus.
Maka Abu Bakar adalah orang yang taqwa (taqiy), bersih (naqiy), yang diredhai (mardhi), yang redha (radhiy), yang adil (‘adl), penegak keadilan (mu‘addil) dan yang menepati perjanjian (wafiy).

(Dialog keenam):
Syi‘ah kemudian berkata: Sesungguhnya mencintai ‘Ali adalah fardhu menurut ketetapan Allah Ta‘ala:
Katakanlah (wahai Muhammad): “Aku tidak meminta kepada kamu sesuatu upahpun atas seruanku kecuali kasih sayang dalam kekeluargaan.” [al-Syura 42:23][13]
Ja’far menjawab: Bahawa Abu Bakar juga memiliki yang seumpama. Allah berfirman:
Dan orang-orang yang datang kemudian daripada mereka (berdoa dengan) berkata: “Wahai Tuhan Kami ! Ampunkanlah dosa kami dan dosa saudara-saudara kami yang mendahului kami dalam iman, dan janganlah Engkau jadikan dalam hati kami perasaan hasad dengki dan dendam terhadap orang-orang yang beriman. Wahai Tuhan kami ! Sesungguhnya Engkau Amat Melimpah Belas kasihan dan Rahmat-Mu.” [al-Hasyr 59:10]
Abu Bakar terlebih dahulu membawa iman, maka meminta ampun untuknya adalah wajib dan mencintainya adalah fardhu serta membencinya adalah kufur.
(Dialog ketujuh):
Syi‘ah berkata: Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Hasan dan Husain keduanya adalah sayyid (pemuka) pemuda ahli syurga dan ayah mereka berdua lebih baik daripada keduanya.”[14]
Ja’far berkata kepadanya: Bagi Abu Bakar di sisi Allah ada keutamaan yang melebihi itu. Aku diberitahu oleh ayahku, daripada datukku, daripada ‘Ali bin Abu Thalib ‘alaihi salam, dia berkata:[15]
Saya ada di samping Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, tidak ada orang lain selain aku. Tiba-tiba muncullah Abu Bakar dan ‘Umar radhiallahu ‘anhuma maka Nabi bersabda:
“Hai ‘Ali ! Kedua orang ini adalah sayyid (pemuka) penduduk ahli syurga, yang tua maupun yang muda, yang telah lewat dan yang terdahulu dari generasi awal maupun yang tersisa dan yang tinggal dari generasi yang belakangan kecuali para Nabi. Jangan engkau beritahukan kepada keduanya wahai ‘Ali.”
Maka aku (‘Ali) tidak memberitahukannya kepada siapa pun hingga keduanya tiada.
(Dialog kelapan):
Syi‘ah bertanya: Manakah yang lebih utama, Fathimah putri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam atau ‘A’isyah binti Abu Bakar ?
Ja’far menjawab: (dengan membaca ayat):

Dengan nama Allah yang Maha Pemurah dan Maha Penyayang. Yasin; Demi Al-Quran yang mengandungi hikmat-hikmat dan kebenaran yang tetap kukuh. [Yasin 36:01-02]
Ha-Mim; Demi Kitab Al-Quran yang menyatakan kebenaran. [al-Zukhruf 43:01-02]
Syi‘ah kemudian berkata: Aku bertanya kepadamu manakah yang lebih baik, Fathimah putri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ataukah ‘A’isyah putri Abu Bakar, kenapakah kamu membaca Al-Quran ?
Ja’far menjawab: ‘A’isyah putri Abu Bakar adalah isteri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dia akan bersamanya di syurga. Sedangkan Fathimah putri Rasulullah adalah sayyidah (pemuka) wanita ahli syurga. Yang mencela isteri Rasulullah mudah-mudahan dilaknat oleh Allah Ta‘ala dan yang membenci putri Rasulullah mudah-mudahan dihina oleh Allah Ta‘ala.
Syi‘ah (tidak berpuas hati lalu) berkata: ‘A’isyah telah memerangi ‘Ali dan dia adalah isteri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam !
Ja’far menjawab tegas: (Itu adalah) benar (tetapi) celakalah kamu ! (Bukankah) Allah Ta’ala telah berfirman:
Dan kamu tidak boleh sama sekali menyakiti (hati) Rasul Allah. [al-Ahzab 33:53][16]
(Dialog kesembilan):
Kemudian Syi‘ah bertanya: Apakah kekhalifahan Abu Bakar, ‘Umar dan ‘Utsman ada di dalam Al-Qur’an ?”
Ja’far menjawab: Ada, bahkan juga di dalam Taurat dan Injil. Allah berfirman:

Dan Dia-lah yang menjadikan kamu khalifah di bumi dan meninggikan setengah kamu atas setengahnya yang lain beberapa darjat. [al-An‘am 6:165]

Atau siapakah yang memperkenankan doa orang yang menderita apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghapuskan kesusahan, serta menjadikan kamu khalifah bumi? [al-Naml 27:62]
Allah menjanjikan orang-orang yang beriman dan beramal soleh dari kalangan kamu (wahai umat Muhammad) bahawa Ia akan menjadikan mereka khalifah-khalifah yang memegang kuasa pemerintahan di bumi, sebagaimana Ia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka: khalifah-khalifah yang berkuasa; dan Ia akan menguatkan dan mengembangkan agama mereka (Islam) yang telah diredhaiNya untuk mereka. [al-Nur 24:55][17]
Syi‘ah meminta penjelasan: Wahai putra Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu di manakah kekhalifahan mereka di (sebut) dalam Taurat dan Injil ?
Ja’far menjawab (dengan membaca firman Allah):
Muhammad ialah Rasul Allah; dan orang-orang yang bersama dengannya bersikap keras dan tegas terhadap orang-orang kafir dan (sebaliknya) bersikap kasih sayang serta belas kasihan kasihan sesama sendiri (umat Islam). Engkau melihat mereka tetap beribadat rukuk dan sujud, dengan mengharapkan limpah kurnia (pahala) dari Tuhan mereka serta mengharapkan keredhaanNya. Tanda yang menunjukkan mereka terdapat muka mereka - dari kesan sujud. Demikianlah sifat mereka yang tersebut di dalam Kitab Taurat; dan sifat mereka di dalam Kitab Injil. [al-Fath 48:29]
Dan orang-orang yang bersama dengannya… ialah Abu Bakar.
Bersikap keras dan tegas terhadap orang-orang kafir… ialah ‘Umar bin al-Khaththab.
Dan (sebaliknya) bersikap kasih sayang serta belas kasihan kasihan sesama sendiri (umat Islam)… ialah ‘Utsman bin ‘Affan.
Engkau melihat mereka tetap beribadat rukuk dan sujud dengan mengharapkan limpah kurnia dari Tuhan mereka serta mengharapkan keredaan-Nya… ialah ‘Ali bin Abi Thalib.
Tanda yang menunjukkan mereka terdapat muka mereka - dari kesan sujud… ialah para sahabat Rasulullah.
Demikianlah sifat mereka yang tersebut di dalam Kitab Taurat; dan sifat mereka di dalam Kitab Injil.
Syi‘ah bertanya lagi: Apakah yang dimaksud dalam Taurat dan lnjil ?
Ja’far menjawab: Muhammad Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para khulafa' sesudahnya: Abu Bakar, ‘Umar, ‘Utsman dan ‘Ali.
Kemudian Ja’far menepuk dada Syi‘ah itu dan berkata: Allah Ta‘ala berfirman (dengan membaca sambungan ayat 29 surah al-Fath):
Seperti pokok tanaman yang mengeluarkan anak dan tunasnya, lalu anak dan tunasnya itu menyuburkannya, sehingga ia menjadi kuat, lalu ia tegap berdiri di atas (pangkal) batangnya dengan keadaan yang mengkagumkan orang-orang yang menanamnya.
(Allah menjadikan sahabat-sahabat Nabi Muhammad s.a.w dan pengikut-pengikutnya kembang biak serta kuat gagah sedemikian itu) kerana Ia hendak menjadikan orang-orang kafir merana dengan perasaan marah dan hasad dengki - dengan kembang biaknya umat Islam itu. (Dan selain itu) Allah telah menjanjikan orang-orang yang beriman dan beramal salih dari mereka, keampunan dan pahala yang besar. [al-Fath 48:29]
Seperti pokok tanaman yang mengeluarkan anak dan tunasnya, lalu anak dan tunasnya itu menyuburkannya… ialah Abu Bakar.
Sehingga ia menjadi kuat… ialah ‘Umar.
Lalu ia tegap berdiri di atas (pangkal) batangnya… ialah ‘Utsman bin ‘Affan.
Dengan keadaan yang mengkagumkan orang-orang yang menanamnya kerana Ia hendak menjadikan orang-orang kafir merana dengan perasaan marah dan hasad dengki - dengan kembang biaknya umat Islam itu… ialah ‘Ali bin Abi Thalib.
Allah telah menjanjikan orang-orang yang beriman dan beramal salih dari mereka, keampunan dan pahala yang besar… ialah para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Semoga Allah meredhai mereka, sungguh celakalah kamu !
Aku diberitahu oleh ayahku, daripada datukku, daripada ‘Ali bin Abi Thalib, bahawa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
Aku adalah orang yang pertama bangkit dari bumi dan tidak ada kesombongan. Allah memberi kemudahan kepadaku dari hal-hal yang belum pernah diberikan kepada seorang Nabi pun sebelumku. Kemudian Dia memanggil: “Dekatkan para khulafa' sesudahmu.”
Maka aku berkata, “Ya Rabb ! Siapakah khulafa’ itu ?” Maka Dia berkata: “ ‘Abd Allah bin ‘Utsman Abu Bakar al-Shiddiq.” Maka orang yang pertama keluar dari tanah setelahku ialah Abu Bakar. Dia kemudian didirikan di hadapan Allah Ta‘ala untuk dihisab dengan hisab yang ringan sekali (hisaban yasiran) kemudian dia diberi pakaian sutera berwama hijau lalu didirikan di depan al-‘Arasy.
Kemudian ada panggilan: “Mana ‘Umar bin al-Khaththab ?” Datanglah ‘Umar dengan urat-urat leher yang masih mengalirkan darah. Dia bertanya: “Siapa yang telah berbuat seperti ini kepadamu?” ‘Umar menjawab: “Budak Mughirah bin Syu’bah.” Dia kemudian didirikan di hadapan Allah lalu dihisab dengan hisab yang sangat ringan dan diberi pakaian sutera berwarna hijau lalu didirikan di depan al-‘Arasy.
Kemudian didatangkan ‘Utsman bin 'Affan dengan urat-urat leher yang mengalirkan darah. Dia ditanya: “Siapa yang telah berbuat ini kepadamu ?” Maka dia menjawab: “Fulan dan fulan.” Dia didirikan di hadapan Allah lalu dihisab dengan hisab yang ringan kemudian diberi pakaian sutera berwarna hijau lalu didirikan di depan al-‘Arasy.
Kemudian dipanggil ‘Ali bin Abu Thalib. Dia datang dengan urat-urat leher yang mengalirkan darah. Dia ditanya: “Siapa yang berbuat ini kepadamu ?” Maka ‘Ali menjawab: ‘Abd al-Rahman bin Muljam.” Dia didirikan di hadapan Allah Ta‘ala dan dihisab dengan hisab yang ringan kemudian diberi pakaian sutera berwarna hijau dan didirikan di depan al-‘Arasy.
Syi‘ah tadi bertanya sekali lagi: Apakah semua ini ada di dalam al-Qur'an wahai putra Rasulullah ?
Ja’far menjawab: Ya ! Allah berfirman:
Dan akan dibawa Nabi-nabi serta saksi-saksi dan akan dihakimi di antara mereka dengan adil sedang mereka tidak dikurangkan balasannya sedikitpun. [al-Zumar 39:69]
Dan akan dibawa Nabi-nabi serta para saksi… ialah Abu Bakar, ‘Umar, ‘Utsman dan ‘Ali (di mana) … akan dihakimi di antara mereka dengan adil sedang mereka tidak dikurangkan balasannya sedikitpun.
(Dialog terakhir):
Akhirnya Syi‘ah tadi bertanya: Wahai putra Rasulullah, apakah Allah masih mahu menerima taubat saya dari dosa-dosa saya yang telah memisahkan antara Abu Bakar, ‘Umar, ‘Utsman dan ‘Ali ?”
Ja’far menjawab: Tentu, pintu taubat selalu terbuka maka perbanyaklah istighfar untuk mereka. Adapun jika sekiranya kamu mati dalam keadaan menyalahi mereka maka kamu pasti mati di atas dasar selain fitrah Islam dan amal-amal kamu seperti amalan-amalan orang kafir – akan sirna tak tersisa.
(Rawi menerangkan): Akhirnya orang tadi bertaubat meninggalkan ucapan buruknya dengan taubat nashuha.
Sekian dialog antara Ja’far al-Shiddiq radhiallahu ‘anh dengan seorang Syi‘ah. Jelas terdapat perbezaan iktikad antara beliau dengan Ja’far al-Shiddiq yang merupakan salah seorang imam Ahl al-Bait Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
Semoga dialog ini dapat memberi keinsafan kepada ahli-ahli Syi‘ah masa kini. Sesiapa yang membacanya dengan fikiran yang terbuka akan dengan mudah mengetahui ketepatan Ja’far al-Shiddiq radhiallahu ‘anh dalam mengemukakan ayat dan hadis sebagai dalil dan kecerdasan beliau dalam menghujahkannya sebagaimana di atas sehingga tidak mungkin dapat diragui atau ditolak lagi.
Oleh itu hendaklah ahli-ahli Syi‘ah masa kini yang mendakwa diri mereka sebagai penyokong dan pengikut Mazhab Ahl al-Bait mengkaji semula iktikad mereka secara jujur dan ikhlas. Antara caranya ialah terus membaca dan mengkaji buku ini, mudah-mudahan dengan izin Allah akan terserlah antara yang benar dan yang salah.
Beliau ialah al-Imam al-Mujtahid Ja’far bin Muhammad bin ‘Ali bin Husain bin ‘Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhum. Beliau dilahirkan di Madinah pada 17 Rabi’ al-Awwal tahun 83H dan merupakan seorang ahli hadis, ahli tafsir, ahli fiqh dan pelbagai lagi ilmu-ilmu Islam. Pendapat-pendapat beliau dihimpun dan dikenali sebagai Fiqh Mazhab Ja’fari. Meninggal dunia pada 25 Syawal tahun 148H di Madinah juga.

Kumpulan Hadist sehari-hari


Batam, 06 Agustus 2010
Hadist-hadist dalam kehidupan sehari-hari

Ketentuan wudhu:

Firman Allah SWT, "Apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuhlah) kakimu sampai dengan kedua mata kaki." (QS. al-Maa'idah: 6)

1. Tiada Shalat yang Diterima Tanpa Wudhu:
Hadist riwayat Abu Hurairah r.a. berkata, "Rasulullah saw bersabda, 'Tidaklah diterima shalat orang yang berhadats sehingga ia berwudhu'' Seorang laki-laki dari Hadramaut bertanya, "Apakah hadats itu, wahai Abu Hurairah?" Ia menjawab, "Kentut yang tidak berbunyi atau kentut yang berbunyi." (HR. Bukhari)
2. Kewajiban bersuci ketika shalat:
• Hadis riwayat Abu Hurairah ra.: dari Rasulullah saw. beliau bersabda: Shalat salah seorang di antara kalian tidak akan diterima apabila ia berhadas hingga ia berwudu. (Shahih Muslim No.330)

3. Cara wudhu dan kesempurnaannya:
• Hadis riwayat Usman bin Affan ra.: bahwa Ia (Usman ra.) minta air lalu berwudu. Beliau membasuh kedua telapak tangannya tiga kali lalu berkumur dan mengeluarkan air dari hidung. Kemudian membasuh wajahnya tiga kali, lantas membasuh tangan kanannya sampai siku tiga kali, tangan kirinya juga begitu. Setelah itu mengusap kepalanya, kemudian membasuh kaki kanannya sampai mata kaki tiga kali, begitu juga kaki kirinya. Kemudian berkata: Aku pernah melihat Rasulullah saw. berwudu seperti wuduku ini, lalu beliau bersabda: Barang siapa yang berwudu seperti cara wuduku ini, lalu salat dua rakaat, di mana dalam dua rakaat itu ia tidak berbicara dengan hatinya sendiri, maka dosanya yang telah lalu akan diampuni. (Shahih Muslim No.331)
4. Karakter fitrah alami:
• Hadis riwayat Abu Hurairah ra.: dari Nabi saw., beliau bersabda: Fitrah itu ada lima, atau ada lima perkara yang termasuk fitrah; berkhitan; mencukur rambut kemaluan; memotong kuku; mencabut bulu ketiak dan menggunting kumis. (Shahih Muslim No.377)
• 5. Anjuran memotong kumis:
• Hadis riwayat Ibnu Umar ra.: dari Nabi saw., beliau bersabda: Potonglah kumis dan panjangkanlah jenggot. (Shahih Muslim No.380)
Ketentuan-ketentuan dalam azan dan iqomat:

1. Sunat membaca seperti yang dikumandangkan muazin bagi yang mendengar azan kemudian membaca selawat untuk Nabi saw. dan memohon wasilah untuknya:
• Hadis riwayat Abu Said Al-Khudri ra.: bahwa Rasulullah saw. bersabda: Apabila engkau mendengar azan, maka bacalah seperti yang dikumandangkan muazin. (Shahih Muslim No.576)
• 2. Menurut Riwayat Muslim dari Umar Radliyallaahu 'anhu tentang keutamaan mengucapkan kalimat per kalimat sebagaimana yang diucapkan oleh sang muadzin, kecuali dua hai'alah (hayya 'alash sholaah dan hayya 'alal falaah) maka hendaknya mengucapkan la haula wala quwwata illa billah.
3. Keutamaan azan dan larinya setan ketika mendengar azan:
• Hadis riwayat Abu Hurairah ra.: dari Nabi saw., beliau bersabda: Sesungguhnya setan, apabila mendengar azan untuk salat, ia berlari sambil terkentut-kentut sampai tidak mendengarnya lagi. Ketika azan telah berhenti, ia kembali menghasut. Apabila mendengar iqamat, ia pergi sampai tidak mendengarnya. Ketika iqamat telah berhenti, ia kembali menghasut lagi. (Shahih Muslim No.582)
• 4. Dari Jabir Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Barangsiapa yang ketika mendengar adzan berdoa: Allaahumma robba haadzihi da'watit taammati, was sholaatil qooimati, aati Muhammadanil washiliilata wal fadliilata, wab 'atshu maqooman mahmuudal ladzi wa'adtahu (artinya: Ya Allah Tuhan panggilan yang sempurna dan sholat yang ditegakkan, berilah Nabi Muhammad wasilah dan keutamaan, dan bangunkanlah beliau dalam tempat yang terpuji seperti yang telah Engkau janjikan), maka dia akan memperoleh syafaat dariku pada hari Kiamat." (Dikeluarkan oleh Imam Empat.)
Ketentuan-ketentuan dalam shalat:

Sunat mengangkat dua tangan sejajar pundak ketika takbiratul ihram, akan rukuk dan bangun dari rukuk serta tidak mengangkat tangan ketika bangun dari sujud:
• 1. Hadis riwayat Abdullah bin Umar ra., ia berkata: aku melihat Rasulullah saw. mengangkat kedua tangan hingga sejajar pundak ketika memulai salat, sebelum rukuk dan ketika bangun dari rukuk. Beliau tidak mengangkatnya di antara dua sujud. (Shahih Muslim No.586)
• 2. Hadis riwayat Malik bin Huwairits ra.: dari Abu Qilaabah, bahwa ia melihat Malik bin Huwairits ketika ia salat, ia bertakbir lalu mengangkat kedua tangannya. Ketika ingin rukuk, ia mengangkat kedua tangannya. Ketika mengangkat kepala dari rukuk, ia mengangkat kedua tangannya. Ia bercerita bahwa Rasulullah saw. dahulu berbuat seperti itu. (Shahih Muslim No.588)
• 3. Hadis riwayat Abu Hurairah ra.: bahwa Rasulullah saw. bersabda: Tidak ada salat kecuali dengan bacaan surat Al-Fatihah. (Shahih Muslim No.599)
• 4. Hadis riwayat Abu Hurairah ra.: bahwa Rasulullah saw. masuk mesjid. Lalu seorang lelaki masuk dan melakukan salat. Setelah selesai ia datang dan memberi salam kepada Rasulullah saw. Beliau menjawab salamnya lalu bersabda: Ulangilah salatmu, karena sesungguhnya engkau belum salat. Lelaki itu kembali salat seperti salat sebelumnya. Setelah salatnya yang kedua ia mendatangi Nabi saw. dan memberi salam. Rasulullah saw. menjawab: Wa'alaikas salam. Kemudian beliau bersabda lagi: Ulangilah salatmu, karena sesungguhnya engkau belum salat. Sehingga orang itu mengulangi salatnya sebanyak tiga kali. Lelaki itu berkata: Demi Zat yang mengutus Anda dengan membawa kebenaran, saya tidak dapat mengerjakan yang lebih baik daripada ini semua. Ajarilah saya. Beliau bersabda: Bila engkau melakukan salat, bertakbirlah. Bacalah bacaan dari Alquran yang engkau hafal. Setelah itu rukuk hingga engkau tenang dalam rukukmu. Bangunlah hingga berdiri tegak. Lalu bersujudlah hingga engkau tenang dalam sujudmu. Bangunlah hingga engkau tenang dalam dudukmu. Kerjakanlah semua itu dalam seluruh salatmu. (Shahih Muslim No.602)
5. Hadis riwayat Anas bin Malik ra., ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: Luruskanlah barisan kalian. Sesungguhnya kelurusan barisan salat termasuk bagian dari kesempurnaan salat. (Shahih Muslim No.656)
6. Wail Ibnu Hujr berkata: Aku pernah sholat bersama Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam beliau meletakkan tangannya yang kanan di atas tangannya yang kiri pada dadanya. (Dikeluarkan oleh Ibnu Khuzaimah)
Bacaan dalam salat:

1. Hadis riwayat Abu Barzah ra.: ia berkata: Rasulullah saw. dalam salat Subuh membaca enam puluh sampai seratus ayat. (Shahih Muslim No.702)
2. Hadis riwayat Abu Qatadah ra., ia berkata: kami pernah salat berjamaah dengan Rasulullah saw. Dalam dua rakaat pertama salat Zuhur dan Asar, beliau membaca Fatihah dan dua buah surat, kadang-kadang memperdengarkan ayat kepada kami. Beliau memanjangkan rakaat pertama salat Zuhur dan memperpendek rakaat kedua. Demikian pula dalam salat Subuh. (Shahih Muslim No.685)
3. Hadis riwayat Barra' ra.: dari Nabi saw. bahwa dalam suatu perjalanan beliau mengerjakan salat Isyak. Dalam salah satu dari dua rakaatnya beliau membaca Wat tiini waz zaitun. (Shahih Muslim No.706)
4. Hadis riwayat Jabir bin Abdullah ra., ia berkata: Muaz pernah salat bersama Nabi saw. lalu pulang mengimami kaumnya. Pada suatu malam ia salat Isyak bersama Nabi saw. lalu pulang mengimami kaumnya. Ketika ia mulai dengan membaca surat Al-Baqarah, ada seorang lelaki yang memisahkan diri dari salat berjamaah sampai salam, selanjutnya mengerjakan salat sendiri dan pergi. Orang-orang menegurnya: Hai fulan, apakah engkau telah munafik? Ia menjawab: Tidak, demi Allah. Sungguh, aku akan menemui Rasulullah saw. dan memberitahukan hal ini. Setelah bertemu dengan Rasulullah saw., ia berkata: Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami adalah pemilik unta penyiram tanaman, bekerja di siang hari. Sesungguhnya Muaz setelah mengerjakan salat Isyak bersama Anda lalu pulang dan (salat bersama kami) mulai dengan bacaan surat Al-Baqarah. Rasulullah saw. menghadap ke arah Muaz dan bersabda: Wahai Muaz, apakah engkau ingin menimbulkan fitnah (kesulitan)? Bacalah (surat) ini dan itu. Sufyan berkata: Aku berkata kepada Amru bahwa Abu Zubair menceritakan kepada kami dari Jabir bahwa Rasulullah saw. bersabda: Bacalah Was Syamsi wa Dhuhaaha (surat As-Syams), Wadh Dhuhaa (surat Ad-Dhuhaa), Wal laili idza Yaghsyaa (surat Al-Lail) dan Sabbihisma rabbikal a`laa (sutat Al-A`laa), maka Amru menanggapi: Ya, seperti itu. (Shahih Muslim No.709)
5. Perintah kepada imam agar mempercepat salat sambil menjaga kesempurnaan:
Hadis riwayat Abu Hurairah ra.: bahwa Nabi saw. bersabda: Apabila salah seorang dari kalian menjadi imam, maka hendaknya ia memperingan salatnya, karena di antara mereka ada anak kecil, orang tua, orang lemah dan orang sakit. Bila salat sendirian, maka salatlah sekehendak hatinya. (Shahih Muslim No.714)
6. Bacaan ketika rukuk dan sujud
Hadis riwayat Aisyah ra., ia berkata: adalah Rasulullah saw. dalam rukuk dan sujudnya banyak membaca: "Subhaanaka allahumma rabbanaa wa bihamdika, allahummaghfir li" (Maha suci Allah, ya Allah, ya Tuhan kami, dengan segala puji-Mu, ampunilah aku). Beliau menafsirkan perintah Alquran. (Shahih Muslim No.746)
7. Menjelaskan anggota tubuh untuk bersujud, larangan menahan rambut dan pakaian (saat sujud), menjalin rambut ketika salat:
Hadis riwayat Ibnu Abbas ra., ia berkata: Nabi saw. diperintahkan untuk sujud dengan tujuh anggota badan dan dilarang menutup dahinya dengan rambut dan pakaian. (Shahih Muslim No.755)
8. Hadis riwayat Anas ra., ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: Luruslah kalian dalam sujud dan janganlah seorang kalian melunjurkan kedua lengannya seperti anjing melunjurkan kaki depannya. (Shahih Muslim No.762)
9. Aisyah r.a. berkata, "Allah Ta'ala memfardhukan shalat ketika difardhukan-Nya dua rakaat-dua rakaat, baik di rumah maupun dalam perjalanan. Selanjutnya, dua rakaat itu ditetapkan shalat dalam perjalanan dan shalat di rumah ditambah lagi (rakaatnya)." (Dalam satu riwayat: Kemudian Nabi Muhammad saw. hijrah, lalu difardhukan shalat itu menjadi empat rakaat dan dibiarkan shalat dalam bepergian sebagaimana semula, 4/267).(HR. Bukhari)
10. Wajibnya Shalat dengan Mengenakan Pakaian dan Firman Allah Ta'ala, "Pakailah pakaianmu yang indah pada setiap (memasuki) masjid." (al-A'raaf: 31), dan Orang yang Mendirikan Shalat dengan Memakai Satu Helai Pakaian
Abu Hurairah berkata bahwa ada orang yang bertanya kepada Rasulullah saw tentang shalat dalam satu kain. Rasulullah saw bersabda, "Apakah masing-masing dari kamu mempunyai dua kain?" (HR. Bukhari)
11. Shalat dengan Mengenakan Jubah Buatan Syam (dalam HR. Bukhari)
Al-Hasan berkata bahwa tidak apa apa shalat dengan mengenakan pakaian-pakaian yang ditenun oleh kaum Majusi (yakni para penyembah api).[8] (dalam HR. Bukhari)
Ma'mar berkata, "Aku melihat az-Zuhri memakai pakaian Yaman yang dicelup dengan air kencing."[9]
Ali r.a. shalat dengan pakaian baru yang belum dicuci.[10] (dalam HR. Bukhari)
12. Mughirah bin Syu'bah berkata, "Aku bersama Nabi Muhammad saw. [pada suatu malam, 7/37] dalam suatu perjalanan (dalam satu riwayat: dan aku tidak mengetahui melainkan dia berkata, 'dalam Perang Tabuk', 5/136), [lalu beliau bertanya, 'Apakah engkau membawa air?' Aku jawab, 'Ya.' Beliau lalu turun dari kendaraannya], kemudian bersabda, 'Wahai Mughirah, ambillah bejana kecil (terbuat dari kulit)!' Aku lalu mengambilnya. Rasulullah saw pergi sehingga beliau tertutup dariku [pada malam yang gelap gulita], kemudian beliau menunaikan hajatnya [Beliau lalu datang dan aku temui beliau dengan aku bawakan air, 3/231], dan beliau mengenakan jubah buatan negeri Syam [dari kulit/wol]. Beliau lalu mengeluarkan tangan dari lengannya, namun sempit, [maka beliau tidak dapat mengeluarkan kedua lengan beliau darinya]. Beliau lalu mengeluarkan tangan dari bawahnya dan aku menuangkan atasnya [bejana itu] [ketika beliau telah selesai menunaikan hajatnya, 1/85]. Beliau lalu berwudhu seperti berwudhu untuk shalat, [maka beliau berkumur-kumur, memasukkan air ke hidung dan mengeluarkannya kembali, membasuh mukanya] [dan kedua tangannya] (dalam satu riwayat: kedua lengannya), [kemudian beliau mengusap kepalanya], [lalu aku menunduk untuk melepaskan khuf beliau, kemudian beliau bersabda, 'Biarkanlah, karena aku memasukkannya dalam keadaan suci,'] dan beliau mengusap khuf (semacam sepatu) beliau kemudian shalat" (HR. Bukhari)
Sujud Sahwi
13. Abdullah berkata, "Nabi saw. shalat [zhuhur dengan mereka, 7/227] [lima rakaat 2/65]. Setelah beliau salam, dikatakan kepada beliau, 'Wahai Rasulullah, telah terjadi sesuatu dalam shalat?' (Dalam satu riwayat: 'Apakah shalat telah ditambah? Dalam riwayat lain: 'Apakah shalat telah diringkas atau terlupakan?) Beliau bersabda, 'Apakah itu?' Mereka menjawab, 'Engkau melakukan shalat lima rakaat.' Beliau lalu melipatkan kedua kaki dan menghadap kiblat, lalu sujud dua kali [sesudah salam], kemudian beliau salam lagi. Ketika beliau menghadapkan muka kepada kami, beliau bersabda, 'Sesungguhnya, kalau terjadi sesuatu dalam shalat niscaya aku beritahukan kepadamu. Akan tetapi, aku adalah manusia seperti kamu; aku bisa lupa sebagaimana kamu lupa. Apabila aku lupa, ingatkanlah. Apabila salah seorang di antara kamu ragu-ragu dalam shalatnya, condonglah kepada yang benar, lantas hendaklah ia menyempurnakannya, kemudian mengucapkan salam, kemudian sujud dua kali.'"(HR. Bukhari)
Waktu-waktu shalat:

1. Dari Abdullah Ibnu Amr Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Waktu Dhuhur ialah jika matahari telah condong (ke barat) dan bayangan seseorang sama dengan tingginya selama waktu Ashar belum tiba, waktu Ashar masuk selama matahari belum menguning, waktu shalat Maghrib selama awan merah belum menghilang, waktu shalat Isya hingga tengah malam, dan waktu shalat Shubuh semenjak terbitnya fajar hingga matahari belum terbit." (Hadist Riwayat Muslim.)
2. Abu Barzah al-Aslamy Radliyallaahu 'anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam pernah setelah usai shalat Ashar kemudian salah seorang di antara kami pulang ke rumahnya di ujung kota Madinah sedang matahari saat itu masih panas. Beliau biasanya suka mengakhirkan shalat Isya', tidak suka tidur sebelumnya dan bercakap-cakap setelahnya. Beliau juga suka melakukan shalat Shubuh di saat seseorang masih dapat mengenal orang yang duduk disampingnya, beliau biasanya membaca 60 hingga 100 ayat. (Muttafaq Alaihi.)
3. Menurut Muslim dari hadits Abu Musa: Beliau menunaikan shalat Shubuh pada waktu fajar terbit di saat orang-orang hampir tidak mengenal satu sama lain.
4. Dari Abu Said Al-Khudry bahwa dia mendengar Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Tidak ada shalat (sunat) setelah shalat Shubuh hingga matahari terbit dan tidak ada shalat setelah shalat Ashar hingga matahari terbenam." (Muttafaq Alaihi.) Dalam lafadz Riwayat Muslim: "Tidak ada shalat setelah shalat fajar."
5. Dalam riwayat Muslim dari Uqbah Ibnu Amir: Tiga waktu dimana Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam melarang kami melakukan shalat dan menguburkan mayit, yaitu: ketika matahari terbit hingga meninggi, ketika tengah hari hingga matahari condong ke barat, dan ketika matahari hampir terbenam.
6. Dari Ibnu Mas'ud Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Perbuatan yang paling mulia ialah shalat pada awal waktunya." Hadits riwayat dan shahih menurut Tirmidzi dan Hakim. Asalnya Bukhari-Muslim.

Lain-lain dalam sholat

1. Jabir Ibnu Samurah berkata: Aku shalat dua I'ed (Fitri dan Adha) bukan sekali dua kali bersama Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam, tanpa adzan dan qomat. Hadist Riwayat Muslim)
2. Amir Ibnu Rabi'ah Radliyallaahu 'anhu berkata: Kami pernah bersama Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam dalam suatu malam yang gelap, maka kami kesulitan menentukan arah kiblat, lalu kami sholat. Ketika matahari terbit ternyata kami telah sholat ke arah yang bukan kiblat, maka turunlah ayat (Kemana saja kamu menghadap maka disanalah wajah Allah). Riwayat Tirmidzi. Hadits lemah menurutnya.
3. Amir Ibnu Rabi'ah Radliyallaahu 'anhu berkata: Aku melihat Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam sholat di atas kendaraannya ke arah mana saja kendaraan itu menghadap. (Muttafaq Alaihi.) Bukhari menambahkan: Beliau memberi isyarat dengan kepalanya, namun beliau tidak melakukannya untuk sholat wajib.
4. Dari Muawiyah Ibnul Hakam Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Sesungguhnya sholat ini tidak layak di dalamnya ada suatu perkataan manusia. Ia hanyalah tasbih, takbir dan bacaan al-Qur'an." (Diriwayatkan oleh Muslim.)
5. Zaid Ibnu Arqom berkata: Kami benar-benar pernah berbicara dalam sholat pada jaman Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam, salah seorang dari kami berbicara dengan temannya untuk keperluannya, sehingga turunlah ayat (Peliharalah segala sholat(mu), dan sholat yang tengah dan berdirilah untuk Allah dengan khusyu'), lalu kami diperintahkan untuk diam dan kami dilarang untuk berbicara. (Muttafaq Alaihi) dan lafadznya menurut riwayat Muslim.
6. Dari Mutharrif Ibnu Abdullah Ibnus Syikhir dari ayahnya, dia berkata: Aku melihat Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam sedang sholat, dan di dadanya ada suara seperti suara air yang mendidih karena menangis. Dikeluarkan oleh (Imam Lima kecuali Ibnu Majah) dan dinilai shahih oleh Ibnu Hibban.
7. Ali Radliyallaahu 'anhu berkata: Aku mempunyai dua pintu masuk kepada Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam, maka jika aku mendatanginya ketika beliau sholat, beliau akan berdehem buatku. (Diriwayatkan oleh Nasa'i dan Ibnu Majah.)
8. Dari Abu Dzar Al-Ghifary Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Yang akan memutuskan sholat seorang muslim bila tidak ada tabir di depannya seperti kayu di bagian belakang kendaraan adalah wanita, keledai, dan anjing hitam." Di dalam hadits disebutkan: "Anjing hitam adalah setan." (Dikeluarkan oleh Imam Muslim.)
9. Dari Abu Dzar Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Jika seseorang di antara kamu mendirikan sholat maka janganlah ia mengusap butir-butir pasir (yang menempel pada dahinya) karena rahmat selalu bersamanya." (Riwayat Imam Lima) dengan sanad yang shahih. Ahmad menambahkan: “Usaplah sekali atau biarkan.”
10. Dari Abu Hurairah Radliyallaahu 'anhu bahwa Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Menguap itu termasuk perbuatan setan, maka bila seseorang di antara kamu menguap hendaklah ia menahan sekuatnya." (Diriwayatkan oleh Muslim dan Tirmidzi) dengan tambahan: "Dalam sholat."
11. Dari Abu Qotadah Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Jika seseorang di antara kamu memasuki masjid maka janganlah ia duduk kecuali setelah sembahyang dua rakaat. (Muttafaq Alaihi.)
Mengenai menghiasi mesjid
1. Dari Anas Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Tidak akan terjadi kiamat hingga orang-orang berbangga-bangga dengan (kemegahan) masjid." (Dikeluarkan oleh Imam Lima kecuali Tirmidzi.) Hadits shahih menurut Ibnu Khuzaimah.
2. Dari Ibnu Abbas Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Aku tidak diperintahkan untuk menghiasi masjid." (Dikeluarkan oleh Abu Dawud dan shahih menurut Ibnu Hibban.)

Mengenai Puasa:

Allah SWT berfirman mengenai perintah melaksanakan puasa pada al Qur'an surah al Baqarah ayat 183 yang artinya:

"Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa."(al-Baqarah: 183)

Pintu Rayyan Itu Khusus Untuk Orang-Orang yang Berpuasa
1. Sahl r.a. mengatakan bahwa Nabi saw. bersabda, "Sesungguhnya di dalam surga terdapat (delapan pintu. Di sana 4/88) ada pintu yang disebut Rayyan, yang besok pada hari kiamat akan dimasuki oleh orang-orang yang berpuasa. Tidak seorang selain mereka yang masuk lewat pintu itu. Dikatakan, 'Dimanakah orang-orang yang berpuasa?' Lalu mereka berdiri, tidak ada seorang pun selain mereka yang masuk darinya. Apabila mereka telah masuk, maka pintu itu ditutup. Sehingga, tidak ada seorang pun yang masuk darinya." HR. Bukhari
2. Abu Hurairah r.a. mengatakan bahwa Rasulullah bersabda, "Barangsiapa yang memberi nafkah dua istri (dengan apa pun 4/193) di jalan Allah, maka ia akan dipanggil dari pintu-pintu surga, 'Wahai hamba Allah, ini lebih baik.' (Dan dalam satu riwayat: Ia akan dipanggil oleh para penjaga surga, yakni oleh tiap-tiap penjaga pintu surga, 'Hai kemarilah.' 2/213). Barangsiapa yang ahli shalat, maka ia dipanggil dari pintu shalat. Barangsiapa yang ahli jihad, maka ia dipanggil dari pintu jihad. Barangsiapa yang ahli puasa, maka ia dipanggil dari (pintu puasa dan) pintu Rayyan. Dan, barangsiapa yang ahli sedekah, maka ia dipanggil dari pintu sedekah." Abu Bakar berkata, "(Tebusan) engkau adalah dengan ayah dan ibuku, wahai Rasulullah. Apakah ada keperluan bagi yang dipanggil dari seluruh pintu itu? Apakah ada orang yang dipanggil dari seluruh pintu itu?" (Dalam satu riwayat: "Wahai Rasulullah, itu yang tidak binasa?") Beliau bersabda, "Ya, dan aku berharap engkau termasuk golongan mereka." HR. Bukhari
3. Abu Hurairah r.a. berkata, "Rasulullah bersabda, 'Apabila bulan Ramadhan datang, maka pintu-pintu langit (dalam satu riwayat: pintu-pintu surga) dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dirantai." HR. Bukhari
4. Aisyah r.a. mengatakan bahwa Nabi saw. bersabda, "Orang-orang akan dibangkitkan dari kuburnya sesuai dengan niatnya."[3]
5. Abu Hurairah r.a. berkata, "Rasulullah bersabda, 'Barangsiapa yang tidak meninggalkan kata-kata dusta dan perbuatan buruk, maka Allah tidak memerlukan ia meninggalkan makan dan minunmya.'"
6. Abu Hurairah r.a, berkata, "Rasulullah bersabda, 'Allah berfirman, (dalam satu riwayat: dari Nabi, beliau meriwayatkan dari Tuhanmu, Dia berfirman 8/212), "Setiap amal anak Adam itu untuknya sendiri selain puasa, sesungguhnya puasa itu untuk Ku (dalam satu riwayat: Tiap-tiap amalan memiliki kafarat, dan puasa itu adalah untuk Ku 8/212), dan Aku yang membalasnya. Puasa itu perisai. Apabila ada seseorang di antaramu berpuasa pada suatu hari, maka janganlah berkata kotor dan jangan berteriak-teriak (dan dalam satu riwayat: jangan bertindak bodoh 2/226). Jika ada seseorang yang mencaci makinya atau memeranginya (mengajaknya bertengkar), maka hendaklah ia mengatakan, 'Sesungguhnya saya sedang berpuasa.' (dua kali 2/226) Demi Zat yang jiwa Muhammad berada dalam genggaman-Nya, sungguh bau mulut orang yang berpuasa di sisi Allah adalah lebih harum daripada bau kasturi. Bagi orang yang berpuasa ada dua kegembiraan yang dirasakannya. Yaitu, apabila berbuka, ia bergembira; dan apabila ia bertemu dengan Tuhannya, ia bergembira karena puasanya itu."
7. Abu Hurairah r.a. berkata, "Nabi (Abul Qasim) bersabda, 'Berpuasalah bila kamu melihatnya (bulan sabit tanggal satu Ramadhan), dan berbukalah bila kamu melihatnya (bulan sabit tanggal 1 Syawal). Jika bulan itu tertutup atasmu, maka sempurnakanlah bilangan Syaban tiga puluh hari.'"
8. Abu Hurairah r.a. mengatakan bahwa Nabi saw bersabda, "Jangan sekali-kali seseorang dari kamu mendahului bulan Ramadhan dengan puasa sehari atau dua hari, kecuali seseorang yang biasa berpuasa, maka berpuasalah hari itu."

Mengenai waktu tidak boleh makan dan minum dan sampai kapan berpuasa dijelaskan dengan firman Allah SWT dalam al Qur'an surah al Baqarah ayat 187 yang artinya:
"Makan dan minumlah hingga jelas begimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai malam." (al-Baqarah: 187)

9. Anas bin Malik r.a. berkata, "Nabi bersabda, 'Makan sahurlah, sesungguhnya dalam sahur itu terdapat berkah.'"
10. Ibnu Umar dan Aisyah r.a. mengatakan bahwa Bilal biasa berazan pada malam hari. Maka, Rasulullah bersabda, "Makanlah dan minumlah sampai Ibnu Ummi Maktum mengumandangkan azan. Karena Ibnu Ummi Maktum tidak berazan sebelum terbit fajar." Al-Qasim berkata, "Antara azan keduanya tidak ada sesuatu (peristiwa) melainkan yang ini naik, dan yang itu turun."
11. Amir bin Rabi'ah berkata, "Saya melihat Nabi bersiwak dan beliau pada saat itu sedang berpuasa. Karena seringnya, maka saya tidak dapat membilang dan menghitungnya."[35]
12. Abu Hurairah r.a. mengatakan bahwa Nabi saw. bersabda, "Andaikan tidak memberatkan umatku, niscaya mereka kuperintahkan bersiwak pada setiap kali berwudhu."
13. Disebutkan dari Abu Hurairah sebagai hadits marfu (yakni diangkat sampai Rasulullah), "Barangsiapa yang tidak puasa sehari dalam bulan Ramadhan tanpa adanya uzur dan bukan karena sakit, maka tidak dapat diganti dengan puasa setahun penuh, sekalipun ia mau berpuasa setahun penuh."[43]
14. Aisyah r.a. berkata, "Sesungguhnya ada seorang laki-laki datang kepada Nabi, lalu ia mengatakan bahwa dirinya terbakar. Lalu, Nabi bertanya, 'Mengapa kamu?' Dia menjawab, 'Saya telah mencampuri istri saya pada siang bulan Ramadhan.' Kemudian didatangkan kepada Nabi sekantong (bahan makanan), lalu beliau bertanya, 'Di mana orang yang terbakar itu?' Orang itu menjawab, 'Saya.' Beliau bersabda, 'Bersedekahlah dengan ini.'"
15. Abu Hurairah r.a. berkata, "Ketika kami sedang duduk-duduk di sisi Nabi, tiba-tiba seorang laki-laki datang kepada beliau. Ia berkata, 'Wahai Rasulullah, saya binasa.' Beliau bertanya, 'Mengapa engkau?' Ia berkata, 'Saya telah menyetubuhi istri saya padahal saya sedang berpuasa (pada bulan Ramadhan).' Rasulullah bersabda, 'Apakah kamu mempunyai budak yang kamu merdekakan?' Ia menjawab, 'Tidak.' Beliau bertanya, 'Apakah kamu mampu berpuasa dua bulan berturut-turut?' Ia menjawab, 'Tidak mampu.' Beliau bersabda, 'Apakah kamu mampu memberi makan enam puluh orang miskin?' Ia menjawab, 'Tidak mampu.' Beliau bersabda, '(Duduklah!' Kemudian ia duduk. 7/236), lalu berdiam di sisi Nabi. Ketika kami dalam keadaan demikian, tiba-tiba dibawakan satu 'araq (satu kantong besar) yang berisi kurma kepada Nabi. (Dalam satu riwayat: maka datanglah seorang laki-laki dari golongan Anshar 3/137). Beliau bertanya, 'Manakah orang yang bertanya tadi?' Orang itu menjawab, 'Saya.' Beliau bersabda, 'Ambillah ini dan sedekahkanlah.' Ia berkata kepada beliau, 'Apakah kepada orang yang lebih fakir (dalam satu riwayat: lebih membutuhkan) daripadaku wahai Rasulullah? Demi Allah di antara dua batu batas (dalam satu riwayat: dua tepian kota Madinah 7/111) (ia maksudkan dua tanah tandus Madinah) tidak ada keluarga yang lebih miskin daripada keluargaku.' Maka, Nabi tertawa sehingga gigi seri beliau tampak. Kemudian beliau bersabda, '(Pergilah, dan) berikanlah kepada keluargamu.'"
16. Abu Hurairah r.a. berkata, "Jika seseorang muntah pada waktu puasa, maka puasanya tidak batal. Sebab, ia mengeluarkan dan bukannya memasukkan."
17. Aisyah r.a. mengatakan bahwa Rasulullah bersabda, "Barangsiapa yang meninggal sedang ia masih menanggung kewajiban puasa, maka walinya berpuasa untuknya."
18. Ibnu Abbas r.a. berkata, "Seorang laki-laki (dalam satu riwayat: seorang wanita[65]) datang kepada Nabi. Ia berkata, 'Wahai Rasulullah, sesungguhnya ibuku (dalam riwayat kedua: saudara wanitaku[66]) meninggal, sedang ia masih mempunyai kewajiban puasa satu bulan (dalam riwayat kedua itu disebutkan: puasa nazar) (dan dalam riwayat ketiga: puasa lima belas hari[67]), apakah saya mengqadha untuknya?" Beliau bersabda, "Ya, utang Allah itu lebih berhak untuk ditunaikan."
19. Sahl bin Sa'ad mengatakan bahwa Rasulullah bersabda, "Manusia itu senantiasa dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka."
20. Abu Juhaifah berkata, "Nabi mempersaudarakan antara Salman dan Abud Darda'. Maka, Salman mengunjungi Abud Darda', lantas ia melihat Ummu Darda' (istri Abu Darda) mengenakan pakaian kerja (pakaian yang jelek), lalu ia bertanya kepada Ummu Darda', 'Mengapa engkau begitu?' Ia menjawab, 'Saudaramu Abud Darda' tidak membutuhkan dunia.' Kemudian Abud Darda' datang, lantas Salman membuatkan makanan untuknya, dan berkata, 'Makanlah.' Abud Darda' berkata, 'Sesungguhnya saya sedang berpuasa.' Salman menjawab, 'Saya tidak akan makan sehingga kamu makan.' Maka, Abud Darda' makan. Ketika malam hari Abud Darda' hendak melakukan shalat, lalu Salman berkata, 'Tidurlah.' Maka, ia pun tidur. Kemudian ia hendak melakukan shalat, lalu Salman berkata, 'Tidurlah!' Kemudian pada akhir malam, Salman berkata, 'Bangunlah sekarang!' Kemudian keduanya melakukan shalat. Setelah itu Salman berkata kepadanya, 'Sesungguhnya Tuhanmu mempunyai hak atasmu, dirimu mempunyai hak atasmu, dan keluargamu (istrimu) mempunyai hak atasmu. Maka, berikan kepada setiap yang mempunyai hak akan haknya.' Lalu Abud Darda' datang kepada Nabi, dan menuturkan hal itu kepada beliau. Maka, beliau bersabda, 'Benar Salman.'"
21. Ibnu Abbas r.a. berkata, "Nabi tidak pernah berpuasa sebulan penuh selain pada bulan Ramadhan. Beliau melakukan puasa (sunnah) sehingga ada orang yang mengatakan, 'Tidak, demi Allah, beliau tidak pernah berbuka (yakni tidak pernah tidak berpuasa). Dan beliau juga berbuka (yakni tidak melakukan puasa sunnah), sampai ada orang yang mengatakan, 'Tidak, demi Allah, beliau tidak pernah berpuasa (sunnah).'"
22. Humaid berkata, "Saya bertanya kepada Anas tentang puasa Nabi, lalu ia berkata, 'Tidaklah beliau berpuasa di suatu bulan melainkan saya melihatnya, dan tidaklah beliau berbuka melainkan saya melihatnya. Tidaklah beliau berjaga malam melainkan saya melihatnya, dan tidaklah beliau tidur melainkan saya melihatnya. Saya tidak pernah menyentuh kain wool campur sutra atau sutra yang lebih halus daripada telapak tangan Rasulullah. Saya tidak pernah mencium minyak kasturi dan bau harum yang lebih harum daripada bau Rasulullah.'"
23. Hadis riwayat Abu Hurairah ra.: Bahwa Rasulullah saw. bersabda: Apabila tiba bulan Ramadan, maka dibukalah pintu-pintu surga, ditutuplah pintu neraka dan setan-setan dibelenggu. (Shahih Muslim No.1793)
24. Hadis riwayat Anas ra., ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: Makan sahurlah kalian, karena pada makan sahur itu terdapat keberkahan. (Shahih Muslim No.1835)
25. Hadis riwayat Abdullah bin Abu Aufa ra., ia berkata: Kami pernah bepergian bersama Rasulullah saw. di bulan Ramadan. Ketika matahari terbenam, beliau bersabda: Wahai fulan, singgahlah dan siapkanlah hidangan buat kami! Orang yang disuruh berkata: Wahai Rasulullah, bukankah sebaiknya baginda tangguhkan sebentar? Rasulullah saw. bersabda: Singgahlah dan siapkan hidangan buat kami! Kemudian ia singgah dan menyiapkan hidangan, lalu ia memberikannya kepada beliau. Nabi saw. meminumnya, kemudian bersabda sambil memberikan isyarat kedua tangannya: Jika matahari sudah terbenam di arah sana dan malam sudah datang dari arah sana, maka orang yang berpuasa boleh berbuka. (Shahih Muslim No.1842)
26. Hadis riwayat Abu Hurairah ra., ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: Apabila salah seorang dari kalian bengun dalam keadaan berpuasa, maka janganlah ia berbicara jorok dan kotor, maka jika seseorang dicaci atau diperangi, maka hendaklah ia berkata: Aku sedang berpuasa, aku sedang berpuasa. (Shahih Muslim No.1941)
27. Hadis riwayat Abu Said Al-Khudri ra., ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: Tidaklah seorang hamba yang berpuasa satu hari di jalan Allah, kecuali Allah akan menjauhkan wajahnya dari api neraka sejauh jarak perjalanan 70 tahun. (Shahih Muslim No.1948)
28. Hadis riwayat Abu Hurairah ra., ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: Barang siapa lupa bahwa ia sedang berpuasa, sehingga ia makan atau minum, maka hendaklah ia meneruskan puasanya, karena sesungguhnya ia telah diberi makan dan minum oleh Allah. (Shahih Muslim No.1952)
29. Hadis riwayat Ibnu Umar ra.: Bahwa sekelompok orang dari sahabat Rasulullah saw. bermimpi melihat lailatulkadar pada hari ke tujuh yang terakhir. Kemudian Rasulullah saw. bersabda: Menurutku bahwa mimpi kalian pasti bertepatan dengan hari ke tujuh terakhir, maka barang siapa yang ingin menantinya, maka hendaklah ia menanti pada hari ke tujuh terakhir (bulan Ramadan). (Shahih Muslim No.1985)
30. Hadis riwayat Abu Said Al-Khudri ra.: Rasulullah saw. pernah melakukan iktikaf pada sepuluh hari pertengahan bulan Ramadan. Ketika mana waktu dua puluh malam telah berlalu dan akan menyambut malam yang kedua puluh satu, maka beliau kembali ke rumahnya dan sahabat yang beriktikaf bersama beliau juga kembali ke rumah mereka. Kemudian beliau bangun malam pada malam ia kembali dari iktikaf dan berpidato di hadapan sahabat serta menyuruh mereka untuk melaksanakan kehendak Allah lalu bersabda: Sungguh dahulu aku iktikaf pada sepuluh malam ini (sepuluh malam pertengahan) kemudian nampak olehku (melalui mimpi) untuk iktikaf pada sepuluh malam akhir. Barang siapa yang pernah iktikaf bersamaku, maka hendaklah ia tidur di tempat iktikafnya. Sesungguhnya aku telah melihat (lailatulkadar) pada malam-malam ini, tetapi lalu aku lupa (waktunya), maka cari dan nantikanlah malam itu di sepuluh malam akhir yang ganjil. Aku pernah bermimpi bahwa aku sujud di air dan lumpur. Abu Said Al-Khudri berkata: Pada malam kedua puluh satu, kami diturunkan hujan, sehingga air mengalir dari atap mesjid ke tempat salat Rasulullah saw., lalu aku memperhatikan beliau. Beliau sudah selesai dari salat Subuh dan pada wajah beliau basah dengan lumpur dan air. (Shahih Muslim No.1993)
31. Hadis riwayat Aisyah ra., ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: Cari dan nantikanlah lailatulkadar pada sepuluh terakhir bulan Ramadan. (Shahih Muslim No.1998)
Keutamaan Lailatul Qadar Allah berfirman, "Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur'an) pada malam kemuliaan. Dan, tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar." (al-Qadr: 1-5
32. Aisyah r.a. berkata, "Nabi apabila telah masuk sepuluh malam (yang akhir dari bulan Ramadhan) beliau mengikat sarung beliau,[6] menghidupkan malam, dan membangunkan istri beliau."


[6] Yakni, menjauhi hubungan biologis dengan istri beliau. Peringatan: Imam Nawawi membawakan hadits ini pada dua tempat dalam kitabnya Riyadhush Shalihin, dan pada tempat pertama ia menambahkan sesudah perkataan "lailahu" dengan "kullahu", dan menisbatkannya kepada Muttafaq'alaih (Bukhari dan Muslim). Tetapi, tidak saya jumpai tambahan ini di dalam riwayat kedua syekh itu dan lainnya. Namun, diriwayatkan oleh Abu Dawud, Ibnu Majah, dan Ahmad (6/41).


Doa:

Hanya kepada Allah sahaja kita meminta belas kasihan; "Ya Allah kasihanilah hamba-hambaMu ini,janganlah Engkau biarkan mereka dalam kesesatan, dalam kemaksiatan, tunjukilah kami ke jalan yang lurus, jalan yang Engkau ridoi, jalan yang Engkau berikan rahmat dan berilah kekuatan kepada kami untuk tetap di jalanMu. Sungguh tanpa pertolonganMu ya Allah kami tidak akan sanggup hidup di dunia ini sesuai dengan tuntunan ajaran nabiMu". Amin ya Allah.